Berita Sorotan Indonesia.
CIREBON — Bagi para pemudik atau pengendara lintas kota, beristirahat di rest area jalan tol adalah sebuah kemewahan setelah berjam-jam menembus aspal.
Namun, ada satu hal yang kerap kali membuat dahi berkerut sebelum kantuk hilang: harga makanan dan minuman yang dinilai “getok harga” alias jauh di atas rata-rata.
Ternyata, tingginya harga segelas kopi atau sepiring nasi di balik kaca etalase rest area bukan semata-mata karena pedagang ingin meraup untung kilat. Ada beban operasional raksasa yang harus mereka pikul setiap bulannya agar dapur tetap bisa mengepul.
Jeritan hati para pedagang ini salah satunya disuarakan oleh Ibu Ida, seorang pemilik warung di Rest Area Tol Kanci, Cirebon. Kepada awak media, ia blak-blakan mengenai struktur biaya yang membuatnya terpaksa mematok harga lebih tinggi dari warung biasa di luar tol.

Ibu Ida mengungkapkan bahwa untuk menyambung hidup dari dua kios yang dikelolanya, ia harus merogoh kocek yang tidak sedikit hanya untuk biaya sewa dan utilitas dasar.
”Setiap bulan saya harus membayar biaya sewa, listrik, dan air yang mencapai sekitar Rp15 juta untuk dua kios,” ungkap Ibu Ida.
Nilai Rp15 juta per bulan tentu bukan angka yang kecil untuk ukuran pelaku usaha mikro dan menengah (UMKM).
Biaya tetap (fixed cost) yang tinggi ini belum termasuk modal bahan baku, gaji karyawan (jika ada), serta fluktuasi jumlah pengunjung tol yang tidak pasti setiap harinya—terutama di luar musim mudik atau libur nasional.
Kondisi dilematis ini menunjukkan realitas yang jarang diketahui publik:
– Bukan Cari Untung Berlipat: Margin keuntungan murni yang diambil pedagang sebenarnya relatif standar.
– Tuntutan Pengelola: Fasilitas rest area yang bersih, toilet yang nyaman, dan parkir luas memerlukan biaya perawatan besar yang dibebankan kepada para penyewa lapak.
– Hukum Pasar Tol: Akses yang terbatas membuat rantai pasok bahan baku ke dalam rest area kadang memerlukan biaya logistik ekstra.
Membeli makanan di rest area tol memang membutuhkan anggaran lebih. Namun, memahami bahwa uang yang kita bayarkan juga mengalir untuk menyokong kehidupan para pelaku UMKM dan biaya operasional yang tinggi, mungkin bisa sedikit mengurangi rasa “dongkol” di dompet.
Bagi Anda yang ingin menghemat, menyiasatinya dengan membawa bekal dari rumah untuk perjalanan jauh tetap menjadi pilihan paling bijak. Namun jika terpaksa membeli, ingatlah bahwa ada perjuangan bertahan hidup dari para pedagang lokal di balik setiap cup kopi yang Anda nikmati
Penulis : Karimun
Editor : Yosep
Sumber Berita: Liputan Cirebon















