Berita Sorotan Indonesia.
SEMARANG – Hiasan warna-warni benang dan deru mesin jahit manual yang khas biasanya menjadi penanda kesibukan luar biasa menjelang tahun ajaran baru sekolah. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di kawasan Jalan Parangkesit Raya, Tlogosari, Semarang. Tepat tujuh hari sebelum hari pertama masuk sekolah (H-7), lapak jasa jahit seragam pinggir jalan di wilayah ini masih sepi dari hiruk-pikuk pesanan.
Lapak jahit jalanan yang biasanya menjadi penyelamat kilat bagi para orang tua untuk sekadar memasang badge (atribut) OSIS, menambal celana pramuka yang robek, atau mengecilkan seragam yang kelonggaran, kini tampak lengang.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya para penjahit jalanan ini harus lembur hingga larut malam demi mengejar tenggat waktu masuk sekolah, tahun ini suasananya justru berbanding terbalik.
”Biasanya seminggu sebelum masuk sekolah itu seragam numpuk, Mas. Ada yang minta pasang badge buru-buru, motong celana kepanjangan, sampai benerin resleting. Tapi sekarang, seharian duduk kadang cuma satu-dua orang yang datang,” ujar salah satu penjahit, Joko, yang sehari-hari mangkal di emperan Jalan Parangkesit Raya.
Ia hanya bisa berharap mukjizat menjelang hari H masuk sekolah. Joko sangat merindukan riuhnya pesanan seperti tahun lalu, di mana tenaganya benar-benar dihargai oleh para orang tua yang membutuhkan jasa kilat.
Padahal, dari segi harga dan kecepatan, jasa jahit jalanan di Tlogosari ini sangat ramah di kantong. Ongkos ditarif antara 5.000 – 25.000, Para penjahit jalanan ini masih menaruh asa di sisa waktu yang ada. Mereka berharap, dalam beberapa hari ke depan—terutama mendekati H-3 hingga H-1 masuk sekolah—para orang tua yang melakukan persiapan “menit-menit akhir” (last minute) akan mulai berdatangan untuk memanfaatkan jasa mereka.
Bagi warga Tlogosari, Semarang, yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan seragam putra-putrinya, lapak lapak penjahit di Jalan Parangkesit Raya siap menjadi solusi cepat. Menghidupkan asa penjahit jalanan seperti Pak Joko bukan sekadar tentang memperbaiki pakaian, melainkan tentang gotong royong menjaga urat nadi ekonomi kecil di sekitar kita agar tetap berputar.
Penulis : Sis
Editor : Yosep
Sumber Berita: Liputan















