EFATA Semarang Buktikan Anak BERKEBUTUHAN KHUSUS Bisa Jadi Penggerak SENI ANGKLUNG NUSANTARA

- Penulis

Minggu, 20 September 2026 - 18:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berita Sorotan Indonesia.

SEMARANG – Semangat inklusi dan kecintaan terhadap budaya Nusantara ditunjukkan Rumah Pintar Anak Berkebutuhan Khusus EFATA Semarang dalam Pagelaran 1000 Angklung Nusantara yang digelar di kawasan Kotalama Semarang, Sabtu (19/9/2026).

Keikutsertaan EFATA Semarang menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk berkarya, berekspresi, serta berkontribusi dalam kehidupan seni dan budaya.

Dalam pagelaran tersebut, anak-anak EFATA Semarang tampil bersama dengan siswa SLBN Semarang dan peserta lainnya dari berbagai komunitas. Kehadiran mereka tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan, tetapi juga membawa pesan bahwa inklusi dapat diwujudkan melalui seni dan budaya.

Apresiasi terhadap kiprah EFATA Semarang semakin istimewa karena dalam kegiatan tersebut EFATA Semarang memperoleh dua penghargaan, yakni Anugerah Terbaik Penggerak Seni Angklung Pelajar dan Anugerah Penggerak Angklung Nusantara.

Dua penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas keterlibatan dan kontribusi EFATA Semarang dalam menggerakkan seni angklung sekaligus membuka ruang partisipasi bagi anak berkebutuhan khusus.

Founder dan pembina Rumah Pintar Anak Berkebutuhan Khusus EFATA Semarang Windy Aryadewi, SH menegaskan bahwa keterlibatan anak berkebutuhan khusus dalam kegiatan seni bukan semata-mata tentang penampilan di atas panggung, tetapi tentang memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan potensi yang dimiliki.

“Kami ingin menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan dan potensi yang luar biasa. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan ruang yang ramah untuk dapat berkembang. Melalui seni angklung, mereka belajar percaya diri, bekerja sama, disiplin, sekaligus menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi bagian penting dalam kegiatan budaya di tengah masyarakat,” ujar Windy.

Menurut Windy,  penghargaan yang diterima EFATA Semarang menjadi penyemangat bagi anak-anak, pendamping, orang tua, dan seluruh keluarga besar EFATA untuk terus berkarya.

Baca Juga:  Legitimasi Pelestari Budaya, Sesaji Semarang Resmi Terima Sertifikat Keanggotaan dari SNKI

“Dua penghargaan ini tentu menjadi kebanggaan bagi kami. Namun yang paling penting bukan hanya penghargaan yang diterima, melainkan proses bagaimana anak-anak berani tampil, berinteraksi, bekerja sama, dan mendapatkan pengakuan atas kemampuan mereka. Inilah makna inklusi yang sesungguhnya,” tambahnya.

Menurut Windy, seni bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu akan tetapi  menjadi media pendidikan, pengembangan potensi, pembentukan kepercayaan diri, sekaligus sarana membangun interaksi sosial yang setara.
Melalui angklung, anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka di ruang publik. Mereka belajar mengikuti irama, bekerja sama, menghargai peran orang lain, sekaligus merasakan pengalaman tampil sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas.

Kehadiran EFATA Semarang memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan gerakan inklusi. Angklung yang dimainkan secara bersama-sama menjadi simbol bahwa setiap individu, dengan segala perbedaan dan keunikannya, dapat menghasilkan harmoni ketika diberi kesempatan untuk berkontribusi.

“Inklusi bukan sekadar mengajak anak berkebutuhan khusus untuk hadir. Inklusi berarti memberikan mereka kesempatan untuk mengambil peran, berkarya, berprestasi, dan mendapatkan apresiasi yang setara,” ungkap Windy yang juga berprofesi sebagai Advokat.

Dua penghargaan yang diterima EFATA Semarang diharapkan semakin memperkuat semangat untuk mengembangkan potensi anak berkebutuhan khusus melalui seni, budaya, pendidikan, dan kegiatan kreatif lainnya.

Pagelaran 1000 Angklung Nusantara di Kotalama Semarang akhirnya tidak hanya menjadi perayaan musik tradisional. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi panggung yang memperlihatkan bahwa anak berkebutuhan khusus bukan sekadar penerima manfaat program inklusi, tetapi juga dapat menjadi pelaku, penggerak, dan inspirasi dalam pelestarian budaya Indonesia.

Melalui seni, EFATA Semarang terus membawa pesan bahwa berbeda bukan berarti terbatas. Ketika kesempatan dibuka, setiap anak dapat menemukan ruang untuk bersinar dan menciptakan harmoni bersama.

Penulis : Rauf

Editor : Yosep

Sumber Berita: Liputan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kongres AWPI II Bergeser ke Jakarta, DPP Siapkan Kongres Nasional Sekaligus UKW
ECA Creative Education Inspirasi DWP DPMPTSP Jateng
Unisbank Pelepasan Dan Pembekalan Mahasiswa Magang Di Taiwan
KETUA DPC AWPI MALANG TOLAK AMPLOP DARI KETUA PANITIA PTSL NGADIRESO* Tugas Jurnalistik Tidak Bisa Dibeli !!!
Ketua DPD AWPI Jatim Sampaikan Ucapan Selamat Kepada Ketua Umum AWPI atas Kelulusan Ujian Tesis Magister Hukum SURABAYA
Kapolsek Lawang Silaturahmi Ke Sekretariat LSM LIRA Malang Dan PP Lawang
Guyub Warga RW 04 Barusari, Semangat HUT RI ke-81 Diramaikan Jalan Sehat hingga Lomba Karaoke
Turnamen Catur Piala Ketua Garda Kamtibmas Indonesia kabupaten Deli Serdang dan PWRI Deli Serdang Meriahkan HUT RI ke-81
Berita ini 42 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 18:24 WIB

Kongres AWPI II Bergeser ke Jakarta, DPP Siapkan Kongres Nasional Sekaligus UKW

Minggu, 20 September 2026 - 18:39 WIB

EFATA Semarang Buktikan Anak BERKEBUTUHAN KHUSUS Bisa Jadi Penggerak SENI ANGKLUNG NUSANTARA

Minggu, 20 September 2026 - 18:31 WIB

ECA Creative Education Inspirasi DWP DPMPTSP Jateng

Kamis, 10 September 2026 - 21:44 WIB

Unisbank Pelepasan Dan Pembekalan Mahasiswa Magang Di Taiwan

Senin, 7 September 2026 - 19:10 WIB

KETUA DPC AWPI MALANG TOLAK AMPLOP DARI KETUA PANITIA PTSL NGADIRESO* Tugas Jurnalistik Tidak Bisa Dibeli !!!

Berita Terbaru