Ironi MBG: Ketika Kebijakan dan Niat Baik Berbalik Menjadi Luka Sosial yang Melahirkan Bullying

- Penulis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

beritasorotanindonesia. com

Program pemerintah seringkali lahir dengan niat mulia, namun tidak jarang berubah menjadi ajang bancakan korupsi para elit.

Fakta terbaru yang mencuat ke publik adalah penangkapan sejumlah petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung, sebuah peristiwa yang semakin memperkuat persepsi sebagian rakyat Indonesia bahwa program-program sosial kerap dijadikan ladang penyalahgunaan anggaran.

Kepercayaan publik pun terkikis, karena apa yang seharusnya menjadi instrumen kesejahteraan justru diperalat untuk kepentingan pribadi segelintir orang.
Dalam konteks ini, rencana BGN untuk memberikan makan bergizi gratis hanya kepada siswa miskin memang tampak sebagai langkah mulia.

Tujuannya jelas: memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap sehat, berdaya, dan tidak tertinggal dalam tumbuh kembang. Namun, di balik niat baik itu tersimpan sebuah ironi yang berpotensi menciptakan luka sosial baru di ruang kelas.

Kebijakan yang membatasi penerima manfaat hanya pada siswa miskin, tanpa memperhitungkan dampak psikologis dan sosial, justru menimbulkan segregasi (pemisahan) yang nyata.

Anak-anak penerima bantuan akan terlihat berbeda, terlabel sebagai “miskin,” dan berisiko menjadi sasaran stigma maupun bullying. Sementara itu, anak-anak yang tidak menerima bantuan akan dianggap “mampu,” sehingga tercipta jurang sosial yang semakin dalam di lingkungan pendidikan.

Sekolah seharusnya menjadi ruang kesetaraan, tempat anak-anak belajar tanpa sekat status ekonomi. Tetapi dengan kebijakan ini, setiap jam makan siang akan berubah menjadi panggung yang memperlihatkan siapa yang miskin dan siapa yang tidak.

Anak-anak penerima makanan akan langsung “terlabel” sebagai kelompok kurang mampu, sementara yang tidak menerima akan dianggap mampu. Perbedaan yang begitu kasat mata ini membuka peluang bagi stigma, ejekan, bahkan bullying.

Bullying bukan hanya lahir dari perilaku individu, tetapi juga bisa tercipta dari kebijakan yang tidak sensitif terhadap psikologi anak. Bayangkan seorang siswa yang setiap hari harus menerima makanan gratis di depan teman-temannya. Alih-alih merasa terbantu, ia bisa merasa malu, terasing, bahkan kehilangan kepercayaan diri.

Baca Juga:  Unisbank Pelepasan Dan Pembekalan Mahasiswa Magang Di Taiwan

Pemerintah, tanpa disadari, sedang membangun tembok pemisah di ruang kelas yang seharusnya inklusif.
Jika tujuan utama adalah memperbaiki gizi anak bangsa, maka pendekatan yang lebih adil adalah memberikan makan bergizi gratis untuk semua siswa tanpa kecuali. Dengan begitu, tidak ada perbedaan mencolok, tidak ada stigma, dan tidak ada rasa malu.

Semua anak akan makan bersama, merasakan kebersamaan, dan menerima pesan bahwa kesehatan adalah hak setiap warga negara, bukan hak eksklusif bagi yang miskin.

Memang, keterbatasan anggaran sering dijadikan alasan. Namun, solusi bisa ditemukan tanpa harus mengorbankan martabat anak-anak. Misalnya, program bisa dilakukan secara bergilir, berbasis menu tambahan, atau dengan melibatkan kolaborasi swasta dan masyarakat.Yang terpenting, jangan sampai kebijakan gizi justru melahirkan diskriminasi.

BGN harus menyadari bahwa makan bersama adalah simbol kesetaraan. Memberikan makan bergizi gratis hanya kepada siswa miskin berarti menegaskan garis pemisah di ruang kelas. Sebaliknya, memberi makan bergizi gratis kepada semua siswa akan lebih mendidik, lebih bermartabat, dan lebih melindungi anak-anak dari stigma sosial.

Kebijakan gizi seharusnya menjadi jembatan menuju masa depan yang sehat, bukan jurang yang memperdalam perbedaan. Pemerintah perlu mengingat: anak-anak bukan sekadar penerima bantuan, mereka adalah generasi penerus bangsa yang berhak tumbuh dalam lingkungan yang setara, sehat, dan bebas dari stigma.

Penulis : Yoyok Hartoyo

Editor : Yosep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Unisbank Pelepasan Dan Pembekalan Mahasiswa Magang Di Taiwan
KETUA DPC AWPI MALANG TOLAK AMPLOP DARI KETUA PANITIA PTSL NGADIRESO* Tugas Jurnalistik Tidak Bisa Dibeli !!!
Ketua DPD AWPI Jatim Sampaikan Ucapan Selamat Kepada Ketua Umum AWPI atas Kelulusan Ujian Tesis Magister Hukum SURABAYA
Kapolsek Lawang Silaturahmi Ke Sekretariat LSM LIRA Malang Dan PP Lawang
Guyub Warga RW 04 Barusari, Semangat HUT RI ke-81 Diramaikan Jalan Sehat hingga Lomba Karaoke
TMMD Sengkuyung Tahap III Kodim 0735/Surakarta Ubah Wajah Kampung Makam Bergolo, Perkuat Infrastruktur dan Kesejahteraan Warga
Peringati Hari Anak Nasional 2026, Kelompok PKK RW 4 Barusari Semarang Gelar Gerakan Bersama Minum Susu untuk Anak
Jelang Masa Kembali ke Sekolah, Ford Jateng & DIY Luncurkan Program Servis Spesial “Back to School, Ford Stay Cool!”
Berita ini 17 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 21:44 WIB

Unisbank Pelepasan Dan Pembekalan Mahasiswa Magang Di Taiwan

Senin, 7 September 2026 - 19:10 WIB

KETUA DPC AWPI MALANG TOLAK AMPLOP DARI KETUA PANITIA PTSL NGADIRESO* Tugas Jurnalistik Tidak Bisa Dibeli !!!

Jumat, 4 September 2026 - 20:09 WIB

Ketua DPD AWPI Jatim Sampaikan Ucapan Selamat Kepada Ketua Umum AWPI atas Kelulusan Ujian Tesis Magister Hukum SURABAYA

Rabu, 2 September 2026 - 20:04 WIB

Kapolsek Lawang Silaturahmi Ke Sekretariat LSM LIRA Malang Dan PP Lawang

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:13 WIB

Guyub Warga RW 04 Barusari, Semangat HUT RI ke-81 Diramaikan Jalan Sehat hingga Lomba Karaoke

Berita Terbaru

NASIONAL

Unisbank Pelepasan Dan Pembekalan Mahasiswa Magang Di Taiwan

Kamis, 10 Sep 2026 - 21:44 WIB